Untuk membantu Anda memahami bagaimana makanan yang kita konsumsi berperan dalam mencegah timbulnya diabetes tipe 2, simak perbincangan kami dengan Dr. Raymond Tso, Medical Director di Sun Life.

Apakah ada pola makan/diet tertentu untuk mencegah diabetes?

Jawaban singkatnya tidak. “Tidak ada satu diet yang optimal,” ungkap Dr. Tso. "Diet yang paling optimal adalah yang bisa Anda ikuti dan pertahankan untuk mencapai persentase lemak tubuh yang optimal dan menghindari obesitas."

Namun ada beberapa pola makan yang dapat membantu mengurangi risiko diabetes tipe 2.

Diet paling terkenal adalah diet Mediterania. Diet ini berfokus pada konsumsi harian berupa sayuran, buah-buahan, biji-bijian dan lemak sehat, serta konsumsi susu dan daging merah secukupnya.

Dr. Tso sendiri merekomendasikan pola makan sederhana: Hindari karbohidrat rafinasi dan gula. Konsumsi makanan berserat, diimbangi dengan daging tanpa lemak atau protein nabati berkualitas baik. Jangan lupa untuk mengontrol porsi makan Anda. 

 

Bagaimana dengan nasi? 

Pertanyaan ini sangat berat, khususnya di Asia, di mana nasi putih memiliki porsi terbesar sebagai sumber energi sehari-hari. Studi Prospective Urban Rural Epidemiology yang meliputi multietnik dan multinasional, menunjukkan bahwa makan lebih dari tiga cangkir nasi putih sehari, secara signifikan dapat meningkatkan risiko diabetes dibandingkan dengan konsumsi dalam jumlah yang lebih rendah. Tetapi sekali lagi, tidak ada jawaban benar atau salah untuk pernyataan ini.

“Semuanya tergantung pada asupan kalori,” kata Dr. Tso, “Serta, kontrol glikemik yang optimal,” – istilah medis untuk kadar gula darah pada pasien diabetes.

Makanan dengan indeks glikemik (GI) rendah di antaranya sayuran hijau, buah-buahan, kacang merah, lentil dan sereal gandum. Makanan dengan GI tinggi antara lain roti tawar, kentang, dan nasi putih. Sementara beras merah, memiliki GI sedang dan jauh lebih cocok untuk orang yang khawatir berkembangnya diabetes tipe 2.

 

Bisakah cara diet baru yang populer membantu mencegah atau mengelola diabetes?

Diet rendah karbohidrat dan sangat rendah karbohidrat yang menghilangkan semua jenis makanan mengandung karbohidrat, termasuk buah, biji-bijian, serta sayuran bertepung, produk olahan susu dan gula, sangat efektif untuk mengurangi berat badan dalam waktu singkat dan dapat menurunkan kadar gula dalam darah. Tetapi, untuk jangka waktu panjang, diet ini akan sulit untuk diikuti.

Diet rendah karbohidrat juga berpotensi memiliki efek samping negatif, di antaranya kelelahan, gejala mirip flu, dan kekurangan nutrisi. Terlebih, diet ini menghilangkan banyak serat makanan sehat yang dapat membantu mengurangi risiko diabetes, penyakit jantung, dan beberapa jenis kanker.

Puasa intermiten, di mana orang memilih untuk tidak makan apapun selama 16 jam, sebanyak dua hari seminggu atau setiap dua hari juga menjadi semakin populer.

Studi menunjukkan puasa intermiten berpotensi menurunkan gula darah dan mempercepat penurunan berat badan. Tetapi tidak ada cukup bukti untuk menunjukkan bahwa itu adalah pilihan yang efektif untuk pola makan sehat. Dan seperti diet rendah karbohidrat, puasa intermiten membutuhkan disiplin yang tinggi dan sulit untuk diikuti dalam jangka panjang. Terlebih lagi, pola ini tidak cocok bagi mereka yang sedang dalam pengobatan dan tidak boleh diminum saat perut kosong. Jika Anda memiliki diabetes, bicarakan dengan dokter sebelum memulai diet ini, kata Dr. Tso.

 

Apa diet terbaik bagi mereka yang memiliki diabetes?

Pola makan yang membantu mencegah dan menunda timbulnya diabetes tipe 2 juga dapat membantu pengelolaan diabetes.

Sumber karbohidrat dengan GI rendah seperti kacang-kacangan, bubur, ubi jalar dan produk kedelai lebih sedikit meningkatkan gula darah dibandingkan dengan sumber karbohidrat dengan GI sedang, seperti nasi basmati, roti gandum, madu dan jus jeruk.

Karbohidrat GI tinggi perlu dihindari oleh orang-orang yang sudah terkena diabetes tipe 2 seperti: nasi putih, beras merah short-grain, dan sushi rice.

Dengan mengukur gula darah Anda di rumah, maka Anda dapat menentukan jenis serta jumlah karbohidrat yang masih aman untuk Anda konsumsi. Ahli nutrisi profesional dapat membantu Anda melihat kadar gula darah dan memberikan saran tentang perubahan yang dapat Anda lakukan pada pola makan untuk membantu mengelola diabetes.

"Meskipun perubahan pada gaya hidup seperti kebiasaan makan adalah kunci untuk mengurangi risiko diabetes," kata Dr. Tso, "Jangan terlalu mengandalkannya dan berharap penyakit mereka dapat dikendalikan tanpa pengobatan yang tepat."

 

Referensi: 

1.      https://idf.org/our-network/regions-members/south-east-asia/diabetes-in-sea.html

2.      https://www.medscape.com/viewarticle/937886