Generasi Baru Pengusaha Muda Indonesia | Sun Life Indonesia

Oktober 13, 2020

Generasi Baru Pengusaha Muda Indonesia, Tak Lagi Andalkan Model Bisnis Keluarga

–     Lebih dari 70% pengusaha muda berpikir di masa depan, akan semakin sedikit model bisnis kepemilikan keluarga

–     Pengusaha muda cenderung tidak siap dalam menghadapi risiko selama pandemi COVID-19

–     Secara rata-rata, pemilik usaha rintisan (startup) di Indonesia berencana pensiun di usia 47 tahun, sementara pengusaha usia matang di usia 58 tahun

Jakarta, Indonesia – 21 Juli 2020, Jumlah model bisnis keluarga multigenerasi di wilayah Asia diperkirakan akan menurun, berdasarkan survei terbaru yang digelar Sun Life Financial Inc. dengan melibatkan lebih dari 240 keluarga pengusaha di Indonesia, dan 1.300 keluarga di wilayah Asia. Riset ini mengungkap perubahan cara pandang dari generasi pertama pemilik bisnis di Indonesia - ketika lebih dari 70% pengusaha muda yang disurvei percaya di masa depan, akan semakin sedikit model bisnis keluarga, dan setengahnya memilih menjual bisnis yang mereka rintis, dibanding meneruskannya kepada generasi selanjutnya. 

 

Survei Sun Life berjudul “Future of Family Businesses in Asia” juga menemukan bahwa kehadiran pendemi COVID-19 telah membangkitkan daya saing dari para pengusaha muda, mengingat persiapan mereka terhadap tantangan dan disrupsi bisnis yang tak terduga masih sangat minim.

Riset ini dirancang untuk mengungkap bagaimana para pendiri (founder) usaha saat ini mengoperasikan bisnis mereka. Hal ini terlihat dari bagaimana persepsi dan tanggapan mereka terhadap risiko; rencana waktu pensiun dan suksesi bisnis mereka; serta pandangan terhadap model bisnis keluarga di dekade selanjutnya. Survei ini digelar pada Desember 2019 dan berhasil mengumpulkan tanggapan dari 1.378 pemilik bisnis di 6 wilayah: Indonesia, Hong Kong, Malaysia, Filipina, Singapura dan Vietnam. Kategori mereka dibagi menjadi: usaha rintisan/startup (0-5 tahun), perusahaan berkembang (6-10 tahun) dan perusahaan matang (lebih dari 10 tahun).

“Bisnis keluarga adalah fondasi dari ekonomi di Asia. Terdapat sejumlah manfaat dari model bisnis keluarga yang dijalankan di wilayah ini. Namun pengusaha yang berusia lebih muda memiliki pandangan yang berbeda terkait masa depan bisnis mereka. Kalangan ini cenderung membangun bisnis dengan cepat, menjualnya, dan kemudian mengambil pensiun dini, dibanding meneruskan bisnis ke anggota keluarga, seperti yang selama ini dilakukan,” jelas Elin Waty, Presiden Direktur Sun Life Indonesia. “Pandemi COVID-19 juga telah menciptakan tantangan serius terhadap bisnis, yang juga berdampak pada terganggunya rencana pensiun dan suksesi bisnis di masa depan.”  

Kesenjangan proteksi kesehatan dan penyakit kritis di tengah kehadiran COVID-19

Survei ini menemukan bagaimana para pemilik usaha keluarga berusia matang melakukan persiapan dan mengantisipasi berbagai risiko yang mungkin dihadapi perusahaan, dan cenderung menerapkan rencana mitigasi terhadap risiko, untuk membangun ketahanan bisnis mereka. Pemahaman akan risiko, serta strategi manajemen risiko yang diterapkan ini, dibangun dari waktu ke waktu.

Pemilik bisnis keluarga umumnya bergantung pada sejumlah pembuat keputusan kunci dalam menjalankan perusahaan. Kesehatan dan kesejahteraan para pemegang posisi kunci (key person) ini terkait erat dengan kesehatan bisnis perusahaan. Hampir semua pemilik bisnis yang disurvei di Indonesia (95%) melaporkan bahwa jika mereka, atau para key person menderita penyakit kronis, dapat berakibat serius pada kelangsungan bisnis perusahaan. Namun, terdapat kesenjangan perlindungan kesehatan dan penyakit kritis antara pengusaha usia matang dibanding para pengusaha berusia muda di Indonesia, khususnya ketika COVID-19 hadir.  

Berdasarkan survei, 73% pengusaha matang memiliki asuransi kesehatan pribadi, dan 71% memiliki perlindungan asuransi selaku key man di perusahaan. Sedangkan, hanya 50% pengusaha rintisan dan 56% pemilik bisnis berkembang memiliki asuransi kesehatan pribadi, sementara 25% pengusaha rintisan dan 38% pemilik bisnis berkembang memiliki perlindungan sebagai key man di perusahaan.

Sebagai tambahan, hanya 56% pengusaha rintisan yang memiliki asuransi kesehatan dan kecelakaan bagi karyawan, dibanding 67% pengusaha matang.

Perbedaan pandangan terhadap model bisnis keluarga

Pemilik bisnis keluarga di Indonesia setuju akan keunggulan dari model bisnis keluarga, namun memiliki pandangan berbeda terhadap prospek bisnis ini di masa depan.

Lebih dari 60% pemilik bisnis setuju model bisnis keluarga memiliki banyak keunggulan, termasuk komitmen manajemen terhadap perusahaan (65%), dan kemampuan untuk melihat peluang bisnis dalam jangka panjang (63%). Sebagian besar percaya bisnis keluarga akan menjadi semakin kompetitif (79%), serta menghasilkan lebih banyak inovasi teknologi dan bisnis di masa depan (73%).

Namun pengusaha muda percaya model bisnis ini akan berubah. Sebagian besar pengusaha rintisan (74%) dan pengusaha berkembang (70%) memperkirakan jumlah bisnis keluarga akan menurun, karena di masa depan, akan semakin banyak kalangan profesional dari luar keluarga yang akan dipercaya untuk mengelola bisnis mereka. Sedangkan hanya 14% pengusaha matang melihat pola seperti ini diterapkan dalam beberapa tahun ke depan. Lebih lanjut, lebih dari 60% pengusaha rintisan dan berkembang percaya, akan ada lebih banyak pendiri (founder) usaha yang memilih untuk menjual bisnis mereka sebelum pensiun, dibanding meneruskan bisnisnya kepada anak mereka. Di sisi lain, hanya 19% pengusaha matang yang setuju dengan model bisnis ini. 

Keberlangsungan dan keberlanjutan bisnis adalah prioritas

Dalam perencanaan masa pensiun dan suksesi bisnis, hampir semua (97%) pemilik bisnis keluarga di Indonesia yang disurvei mempertimbangkan exit plan, dan 88% telah memulai perencanaan suksesi atau regenerasi bisnis.

Prioritas rencana suksesi bisnis dari para pemilik usaha di Indonesia adalah keberlangsungan dan keberlanjutan perusahaan (69%), khususnya di antara para pengusaha matang (77%). Menjaga warisan dan reputasi pendiri perusahaan juga menjadi prioritas dari pengusaha matang (82%), dan lebih sedikit dari mereka yang menaruh perhatian terhadap keharmonisan keluarga (42%). 

Terkait usia pensiun, pengusaha matang rata-rata berencana pensiun di usia 58 tahun, 11 tahun lebih lama dibanding para pengusaha rintisan.

“Pengusaha rintisan dan berkembang berharap dapat penisun di usia lebih muda, sementara ekspektasi usia pensiun para pengusaha matang menunjukkan realitas bahwa dibutuhkan waktu dan perencanaan yang lebih panjang bagi mereka, dalam mengumpulkan kekayaan untuk masa pensiun yang lebih nyaman,” ungkap Leo Grepin, President, Sun Life Asia. “Bagi pemilik bisnis, tabungan pensiun mereka umumnya tersimpan dalam nilai bisnis, sehingga membutuhkan perencanaan suksesi yang perlu segera diterapkan. Krisis kesehatan COVID-19 telah menimbulkan banyak ketidakpastian dalam bisnis secara global. Kondisi ini bahkan memaksa pemilik bisnis bekerja lebih lama, utamanya karena keberlangsungan dan keberlanjutan bisnis adalah rencana suksesi yang mereka pilih.”

Ketika mempertimbangkan exit strategy, banyak pengusaha matang (58%) memilih menurunkan bisnis kepada anak atau anggota keluarga mereka. Meski pengusaha matang di Indonesia  memahami pentingnya perencanaan suksesi dan kebutuhan untuk melakukannya sejak dini, nyatanya mereka justru terjebak dalam rencana tersebut. Lebih dari setengah pengusaha matang yang disurvei tidak mengetahui struktur tata kelola apa yang akan mereka gunakan, dan secara mengejutkan 71% mengaku tidak akan mencari saran dari pihak luar. Pengusaha rintisan dan berkembang justru lebih terbuka dalam menerima masukan dari pihak eksternal. 

“Pandemi COVID-19 menimbulkan tantangan serius bagi kelangsungan bisnis. Sementara prioritas utama dari para pemilik usaha adalah memastikan bisnis mereka selamat melalui pandemi ini, Sun Life mengajak para pemilik bisnis untuk tidak mengabaikan rencana jangka panjang mereka, dan melihat berbagai solusi keuangan yang tersedia secara holistik untuk mengurangi berbagai risiko sekaligus memberikan perlindungan, serta memperkuat bisnis dan rencana suksesi untuk generasi yang akan datang,” tambah Elin. 

--- 00 ---

 

Tentang Sun Life Financial Indonesia

Sun Life Financial Indonesia merupakan anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Sun Life Financial. Kami menawarkan berbagai perlindungan dan pengelolaan produk yang variatif, dari asuransi jiwa, asuransi pendidikan, asuransi kesehatan, dan rencana pensiun. Sun Life bermitra institusi keuangan terkemuka, baik nasional maupun internasional, untuk melayani strategi multi-distribution channels dan menyediakan akses yang lebih luas untuk solusi asuransi kami.

Sun Life Financial Indonesia telah memenangkan beberapa penghargaan bergengsi pada tahun 2019 di antaranya:

1.     The Best Unit Link 2019 - Salam Balanced Fund untuk kategori Mixed Fund for 7 Years Period dari Majalah Investor

2.     Presiden Direktur PT Sun Life Financial Indonesia, Elin Waty, terpilih sebagai Most Inspiring Women dari Majalah Globe Asia

3.     Aplikasi My Sun Life Indonesia meraih penghargaan Top 3 Most User Friendly & Satisfying Application dari Majalah Gatra

4.     Penghargaan Contact Center Service Excellence Award 2019 - Call Center untuk kategori Life & Health Insurance yang diselenggarakan oleh Carre Center for Customer Satisfaction and Loyalty (“Carre CCSL”) dan Majalah Service Excellence

5.     Penghargaan Contact Center Service Excellence Award 2019 - Customer Service Email Centers untuk kategori Insurance yang diselenggarakan oleh Carre Center for Customer Satisfaction and Loyalty (“Carre CCSL”) dan Majalah Service Excellence

6.     Five Star (Sangat Bagus) Rating untuk SLFI Xtra Progressive Fund for 10 Years Period dari Majalah Infobank

7.     First Rank Infobank Digital Brand Awards 2019 untuk kategori Conventional Life Insurance Gross Premium Rp2.5 Trillion - under Rp5 Trillion dari Majalah Infobank

8.     Indonesia Most Admired Companies (IMACO) Award 2019: Pilihan Generasi Milenial dari Majalah Warta Ekonomi

9.     Silver Stevie Awards for Innovation in Human Resource Management, Planning & Practice dari Asia Pacific Stevie Awards

10.  Top Unit Link 2019; Category: Insurance - Anugerah Produk Keuangan Terbaik 2019 dari Majalah Warta Ekonomi

11.  Best Insurance Awards 2019 - Category Life Insurance with Asset Above IDR10 Trillion - IDR25 Trillion dari Majalah Investor

12.  The Highest Profit Growing Insurance Companies 2019 dari Majalah Infobank

13.  Best Financial Performance for Insurance Company with Assets Between Rp10-15 Trillion dan TOP 5 Financial Performances for Insurance Company with Assets Below Rp500 Billion dari Wartaekonomi.co.id

14.  The 2nd Rank Insurance Companies pada Indonesia Best Companies in Creating Leaders from Within 2019 yang diselenggarakan Majalah SWA

15.  Employer of The Year (Bronze Winner) yang diselenggarakan Human Resources Excellence Awards 2019

16.  Presiden Direktur PT Sun Life Financial Indonesia, Elin Waty, terpilih sebagai Most Admired CEO 2019: Excellent Leadership for Accelerating Business Performance dari Wartaekonomi.co.id

Tentang Sun Life

SLF Inc. merupakan perusahaan penyedia layanan jasa keuangan internasional terkemuka yang menyediakan beragam produk asuransi, serta solusi pengelolaan kekayaan dan aset, baik untuk individu maupun korporasi. Sun Life telah beroperasi di sejumlah pasar utama di seluruh dunia, yaitu Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Irlandia, Hong Kong, Filipina, Jepang, Indonesia, India, Cina, Australia, Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Bermuda. Per 31 Maret 2020, Sun Life memiliki total aset kelolaan sebesar CAD 1.023 miliar. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.sunlife.com

Sun Life Financial Inc. diperdagangkan di bursa saham Toronto (TSX), New York (NYSE), dan Filipina (PSE), dengan kode saham SLF.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi:

Shierly Ge

Chief Marketing Officer

Sun Life Financial Indonesia

Tel: +6221-5289-0000

Faks: +6221 5289-0019

E-mail: shierly.ge@sunlife.com