November 28, 2025

Survei Sun Life Ungkap Hampir Tiga Perempat Pemilik Usaha Keluarga di Asia Belum Menyiapkan Penerus Bisnis

  • Hanya 27% keluarga pemilik usaha memiliki rencana penerus usaha yang sepenuhnya tersusun.
  • Lebih dari dua pertiga (68%) ingin kekayaan yang ditinggalkan digunakan untuk pertumbuhan jangka panjang.
  • Di generasi berikutnya, kurang dari sepertiga (31%) benar-benar bersedia melanjutkan usaha keluarga.
  • Separuh (50%) menyatakan enggan mengambil alih usaha keluarga karena ingin tetap mandiri

Jakarta, 28 November 2025 - Survei terbaru Sun Life Asia menunjukkan momen penting bagi keberlangsungan usaha keluarga di Asia. Meski sebagian besar pemilik usaha berniat menyiapkan pengaturan warisan, hanya 27% responden yang sudah memiliki rencana penerus usaha yang lengkap, sehingga hampir tiga perempat usaha keluarga masih belum siap. Kesenjangan ini menegaskan perlunya langkah nyata untuk menjaga keberlanjutan usaha dan kesejahteraan yang dihasilkannya.

Usaha keluarga merupakan fondasi ekonomi Asia, dengan 85% perusahaan di kawasan Asia Pasifik dimiliki oleh keluarga. Bersama UKM yang mencakup 97% bisnis di kawasan, Asia juga memiliki porsi signifikan perusahaan keluarga berskala besar. Perusahaan-perusahaan ini mewakili 18% dari 500 perusahaan keluarga terbesar di dunia, menegaskan pentingnya rencana penerus usaha dalam menjaga nilai dan kekayaan lintas generasi.

Maika Randini, Chief Marketing Officer Sun Life Indonesia, mengatakan:

“Peralihan kekayaan lintas generasi dalam skala besar sudah berlangsung di Asia, sehingga penting bagi para pemilik usaha untuk mempersiapkan masa depan dan menjaga warisan mereka.”

Rencana penerus usaha belum memadai, meski warisan menjadi prioritas utama

Hanya sedikit pemilik usaha yang memiliki rencana penerus usaha yang jelas, meskipun mayoritas ingin memastikan kekayaan mereka terjaga untuk generasi berikutnya. Menurut survei, meski 94% keluarga pemilik usaha berencana menyiapkan pengaturan warisan menyeluruh, hanya 27% yang memiliki rencana penerus usaha yang sepenuhnya tersusun, membuat masa depan banyak usaha belum pasti.

Sebanyak 25% baru memiliki sebagian rencana, 24% sedang menyusunnya, sementara 19% belum memiliki rencana apa pun meskipun berniat melakukannya suatu hari nanti. Tantangan terbesar terlihat di Vietnam, di mana hanya 14% yang memiliki rencana penerus usaha terstruktur, dibandingkan 39% di Indonesia — tertinggi di antara negara yang disurvei. Di Hong Kong, hanya 20% yang memiliki rencana lengkap, sementara di Singapura angkanya mencapai 28%.

Di antara penerus keluarga yang terlibat dalam operasional bisnis, hanya 44% yang menyatakan generasi sebelumnya telah mengomunikasikan rencana warisan secara menyeluruh. Komunikasi ini bahkan lebih jarang terjadi pada keluarga yang penerusnya tidak terlibat dalam bisnis, turun menjadi hanya 27%.

Mayoritas responden yang sudah terlibat dalam bisnis keluarga mengatakan pembahasan warisan dilakukan melalui rapat keluarga formal (57%), diikuti percakapan formal satu lawan satu (52%), dan diskusi informal (43%). Saat ditanya forum ideal untuk membahas warisan, responden tetap memilih rapat keluarga formal (61%), percakapan formal satu lawan satu (50%), dan dokumentasi tertulis (38%) seperti surat wasiat.

Perlindungan, perencanaan, dan pertumbuhan jangka panjang menjadi prioritas keluarga dalam membangun warisan

Meski banyak yang belum memiliki struktur rencana penerus usaha yang formal, hampir 7 dari 10 keluarga pemilik usaha (69%) menempatkan perlindungan keuangan keluarga sebagai faktor terpenting dalam perencanaan warisan. Prioritas berikutnya adalah memiliki rencana warisan yang jelas dan tersampaikan dengan baik untuk menghindari kebingungan atau perselisihan (54%), serta membangun kekayaan yang cukup untuk diwariskan ke generasi berikutnya (51%).

Lebih dari dua pertiga ingin kekayaan yang ditinggalkan dimanfaatkan untuk pertumbuhan jangka panjang, dengan 68% menginginkan warisan diinvestasikan melalui aset keuangan, asuransi jiwa, atau bisnis keluarga.

Maika menambahkan:

“Banyak keluarga belum siap menghadapi masa depan, meski memahami pentingnya rencana penerus usaha yang terstruktur. Ini menjadi peluang besar bagi pemilik usaha untuk memperkuat fondasi masa depan, namun banyak yang masih menghadapi risiko yang tidak perlu.”

Perbedaan nilai antar generasi memicu krisis penerus usaha

Perbedaan nilai, minat, dan prioritas antara generasi menyebabkan semakin banyak penerus keluarga enggan melanjutkan usaha — baik karena keinginan untuk mandiri, takut akan tanggung jawab, atau memiliki minat dan visi yang berbeda.

Di antara pemilik usaha keluarga yang sudah terlibat aktif, hanya 40% yang percaya generasi berikutnya bersedia penuh melanjutkan bisnis. Di sisi lain, dari penerus keluarga yang tidak terlibat operasional, hanya 31% yang menyatakan bersedia sepenuhnya mengambil alih.

Survei menunjukkan jurang generasi yang signifikan. Separuh (50%) penerus keluarga yang enggan mengambil alih bisnis menyebut keinginan untuk tetap mandiri sebagai alasan utama. Alasan lain termasuk takut tanggung jawab (42%), kurang minat (28%), dan perbedaan nilai atau visi (27%).

Maika berkata:

“Usaha keluarga di Asia berada pada titik krusial akibat perbedaan generasi yang semakin lebar. Generasi muda kini mengutamakan kemandirian, tujuan, dan keseimbangan hidup. Pemilik usaha perlu memperkuat rencana penerus usaha dan membuka ruang dialog mengenai masa depan.”

Preferensi terhadap layanan konsultasi warisan

Kurang dari separuh responden pemilik usaha keluarga pernah mencari nasihat perencanaan keuangan. Dari mereka yang sudah atau berencana mencari nasihat, 61% menempatkan keahlian profesional sebagai tiga faktor terpenting dalam memilih konsultan. Faktor berikutnya adalah kemampuan merencanakan kebutuhan keluarga lintas generasi (52%) serta pendekatan personal dan disesuaikan (49%).

Terkait model layanan, 36% memilih ahli individual dengan spesialisasi tertentu. Hampir seperempat (23%) lebih menyukai layanan family office komprehensif yang melibatkan beberapa ahli, sementara 32% memilih kombinasi keduanya.

Maika menutup dengan:

“Temuan kami menunjukkan bahwa pemilik usaha keluarga membutuhkan wawasan profesional yang mendalam dan pendekatan jangka panjang yang disesuaikan. Baik layanan ahli individual maupun family office memiliki tempatnya masing-masing. Nasihat yang proaktif dapat membantu pemilik usaha mencapai tujuan penerus usaha, mencegah konflik, dan menjaga warisan keluarga.”

*****

Tentang Survei Ini

Sun Life Asia melakukan survei terhadap 1.823 pemilik usaha keluarga di Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Vietnam pada Oktober 2025. Survei ini menggambarkan pandangan para pemilik usaha keluarga serta persepsi mereka mengenai tantangan dalam meneruskan usaha kepada generasi berikutnya.

Tentang Sun Life

Sun Life merupakan perusahaan penyedia layanan jasa keuangan internasional terkemuka yang menyediakan produk pengelolaan aset, kekayaan, asuransi, dan solusi kesehatan, baik untuk individu maupun korporasi. Sun Life telah beroperasi di sejumlah pasar utama di seluruh dunia, termasuk Kanada, Amerika Serikat, Inggris, Irlandia, Hong Kong, Filipina, Jepang, Indonesia, India, Tiongkok, Australia, Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Bermuda. Hingga 30 September 2025, Sun Life memiliki total aset kelolaan sebesar CAD 1,62 triliun. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.sunlife.com.

Sun Life Financial Inc. diperdagangkan di bursa saham Toronto (TSX), New York (NYSE), dan Filipina (PSE), dengan kode saham SLF.

Tentang Sun Life Indonesia

Sun Life Indonesia merupakan anak usaha yang dimiliki oleh Sun Life. Sun Life Indonesia menawarkan aneka produk perlindungan dan pengelolaan kekayaan, mulai dari asuransi jiwa, asuransi pendidikan, asuransi kesehatan, hingga perencanaan pensiun. Sun Life Indonesia bermitra dengan lembaga keuangan nasional dan multinasional yang terkemuka untuk menjalankan strategi yang tersebar melalui berbagai jalur dan menyediakan akses yang lebih luas untuk solusi asuransi. Hingga 30 Juni 2025, distribusi keagenan konvensional dan syariah Sun Life didukung oleh lebih dari 1.242 tenaga pemasar dan 40 Kantor Pemasaran Mandiri Konvensional dan 16 Kantor Pemasaran Mandiri Syariah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Hingga 30 Juni 2025, tingkat Risk Based Capital (RBC) Sun Life Indonesia adalah 515% (konvensional) dan RBC Syariah Sun Life Indonesia sebesar 219%, memenuhi dari persyaratan minimum pemerintah, yaitu 120% dengan total aset Sun Life Indonesia sebesar Rp19,07 triliun.

Sun Life Indonesia telah memenangkan berbagai penghargaan bergengsi pada tahun 2025 sebagai berikut:

1.   Best Unitlink Awards 2025:

 Money Market USD 3 Years - Unitlink SLFI Money Market Fund

Equity USD 3 Years - Unitlink Global Yield Equity Fund

2.   Indonesia Best Shariah Business Unit of Life Insurance 2025: Sharia Business Unit of Life Insurance with Community Needs Fulfillment through Shariah Product Collaborations.

3.   Unitlink Award 2025 Media Asuransi:

Money Market USD - Ranked #1 Unitlink SLFI Money Market Fund

 Income Fund USD - Ranked #2 Unitlink High Yield Income Fund

Money Market Shariah - Ranked #4 Unitlink Salam Pasar Uang

4.  Indonesia Digital Innovation Awards 2025: The Most Innovative Digitalization of Life Insurance 2025 for Implementing Digital Transformation to Provide Practical and Integrated Services.

5.   Indonesia CSR Awards 2025: The Best Corporate Social Responsibility Award 2025 for Fostering Future Generations Through Health and Empowerment Programs              

6.  Best Insurance Awards 2025: Best Insurance 2025 in the category of Excellent in Bancassurance Management      

7.    Indonesia Excellence Good Corporate Governance Awards 2025: Indonesia Excellence Good Corporate Governance Ethics in Improving Performance, Customer Confidence, and Management Integrity through Ethical Governance, (Category: Life Insurance)      

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.sunlife.co.id.